Singapura, 12 Oktober 2026 — Maskapai penerbangan Firefly memperpanjang pembatalan seluruh penerbangan terjadwal antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang, Malaysia, dan Bandara Seletar di Singapura hingga 14 Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi cuaca dan kabut asap yang masih berlangsung di Karhutla, Kalimantan.
Penumpang yang terdampak ditawarkan penerbangan alternatif menggunakan Malaysia Airlines, bergantung pada ketersediaan kursi, atau pengembalian dana secara penuh.
Firefly, yang merupakan anak perusahaan milik penuh Malaysia Airlines, sebelumnya telah membatalkan seluruh penerbangan terjadwal pada rute Subang–Seletar untuk periode 10–12 Oktober 2026. Pembatalan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi demi menjaga keselamatan penerbangan.
Dalam pemberitahuan yang disampaikan pada Senin (12/10), Firefly menjelaskan bahwa perpanjangan pembatalan mencakup enam layanan penerbangan harian dengan nomor penerbangan FY3122 dan FY3123, FY3124 dan FY3125, FY3126 dan FY3127, FY3128 dan FY3129, FY3130 dan FY3131, serta FY3132 dan FY3133.
Maskapai menyatakan bahwa penumpang yang terdampak sedang dihubungi untuk mendapatkan pengaturan ulang perjalanan menggunakan penerbangan Malaysia Airlines melalui rute Kuala Lumpur–Singapura. Pengaturan tersebut bergantung pada ketersediaan kursi pada penerbangan alternatif.
“Penumpang yang memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan menggunakan penerbangan pengganti yang telah diatur berhak memperoleh pengembalian dana secara penuh. Dana tersebut akan dikembalikan melalui metode pembayaran awal dalam waktu 30 hari kerja,” demikian keterangan maskapai yang dikutip Bernama.
Sementara itu, kondisi kualitas udara di Singapura masih berada pada kategori tidak sehat pada Senin malam. Berdasarkan data Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA), Indeks Standar Polutan (Pollutant Standards Index/PSI) untuk periode 24 jam berada pada kisaran 118–155 hingga pukul 19.00 waktu setempat.
Wilayah tengah dan barat Singapura mencatatkan angka PSI tertinggi, yakni 155. Sementara itu, wilayah timur mencatatkan angka 139, wilayah selatan 122, dan wilayah utara 118.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Singapura masih memerlukan perhatian, di tengah langkah antisipasi yang dilakukan maskapai untuk menjaga keselamatan operasional penerbangan.



