JAKARTA — Tren kasus Influenza A kembali melonjak signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa subtipe Influenza A H3N2 subklad K—yang kini populer dengan sebutan Super Flu—telah terdeteksi di 13 provinsi. Lonjakan pasien juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur, seiring dengan meningkatnya aktivitas virus di zona transmisi Asia Tenggara berdasarkan laporan Respiratory Viruses Surveillance Bulletin dari WHO.
Menanggapi situasi ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi & Penyakit Tropis mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terinfeksi virus influenza dan berisiko tinggi mengalami komplikasi serius.
Mengapa Anak-Anak Paling Rentan Terinfeksi Influenza A?
Menurut DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, risiko infeksi influenza simtomatik pada anak usia 0–17 tahun dua kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
“Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan durasi yang lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga maupun sekolah,” ujar dr. Hikari.
Data dari IDAI menunjukkan fakta penting terkait paparan virus ini pada balita:
- 5% anak yang terinfeksi influenza membutuhkan perawatan inap di rumah sakit.
- 80% dari pasien rawat inap tersebut adalah anak di bawah usia 2 tahun.
- 50% di antaranya bahkan berusia kurang dari 6 bulan.
Tingkat morbiditas yang tinggi mengintai anak di bawah usia 5 tahun, khususnya mereka yang berada di tempat penitipan anak (daycare), memiliki kelainan neurologi atau tumbuh kembang, serta tinggal di area padat penduduk.
Bahaya Komplikasi dan Pentingnya Deteksi Dini
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari UKK Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan pentingnya pemeriksaan dan penanganan medis secara cepat. Pada anak dengan faktor risiko, serangan influenza dapat memicu komplikasi berat seperti:
- Pneumonia (infeksi paru-paru)
- Eksaserbasi asma (kekambuhan asma berat)
- Miokarditis (peradangan otot jantung)
- Ensefalopati (gangguan fungsi otak)
Diagnosis akurat menggunakan uji laboratoris RT-PCR sangat disarankan karena memiliki sensitivitas tinggi untuk mengidentifikasi subtipe virus secara spesifik.
Pengobatan yang Tepat
Untuk pengobatan, terapi antivirus neuraminidase inhibitor seperti oseltamivir terbukti paling efektif apabila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pemberian obat ini wajib melalui evaluasi dan resep dokter berdasarkan usia serta berat badan anak.



