Skip to main content
Thursday, 3 September 2026
Live
Buka Jendela Hari Ini: Temukan Sudut Pandang Baru di Balik Peristiwa Terhangat.Menjangkau Fakta, Mengabarkan Lensa Realita — Simak Berita Terkini Hanya di KabarJendela.comHAM Soroti Rilis PR Horeka yang Masih Minim Nilai JurnalistikOasis Baru di Sagan: The Prajan Hotel & Villas Resmi Hadir di Jantung YogyakartaSrikandi Fair Meriahkan Peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 di Kudus
Advertisement
Menu
Hotel

HAM Soroti Rilis PR Horeka yang Masih Minim Nilai Jurnalistik

8fd069e5-3a44-4a33-93cd-27acd0e64ab8

HAM, JAKARTA – Berdasarkan survei yang dilakukan Himpunan Anak Media (HAM) terhadap siaran pers yang dikirim praktisi Public Relations (PR) dari industri perhotelan, restoran, dan kafe (Horeka) kepada media melalui surat elektronik, lebih dari 80 persen materi dinilai kurang menarik dan tidak fokus pada topik yang dibahas.

Sebagian besar siaran pers juga masih mengedepankan pendekatan hard selling dan kegiatan seremonial, sehingga kurang memiliki nilai jurnalistik yang dibutuhkan media.

Tidak hanya dari sisi penulisan, kualitas visual pendukung juga menjadi perhatian. Survei HAM menemukan bahwa sekitar 85 persen foto yang dikirimkan bersama siaran pers belum sesuai dengan kebutuhan media, baik dari segi ukuran, komposisi, maupun sudut pengambilan gambar.

Melihat kondisi tersebut, Himpunan Anak Media (HAM) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi” pada Senin, 31 Agustus 2026, di Habitare Apart Hotel Rasuna, Jakarta. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis dan fotografi para pemangku kepentingan di industri Horeka.

“Kasus yang paling sering ditemukan adalah rilis yang terlalu hard selling, bersifat seremonial, dan tidak fokus pada tema yang ditulis. Foto pun kadang hanya menjadi pelengkap rilis tanpa memperhatikan kesesuaiannya dengan isi berita. Ada pula foto berformat potret, padahal media membutuhkan foto lanskap,” ujar Ketua HAM, Fatkhurrohim.

Dalam pelatihan tersebut, Redaktur Tempo, Fransisca Christy Rosana, mengungkapkan bahwa salah satu persoalan yang sering ditemukan dalam siaran pers adalah sudut pandang yang terlalu berorientasi pada kepentingan perusahaan.

Menurut perempuan yang akrab disapa Cicha itu, banyak praktisi PR masih menyusun siaran pers berdasarkan point of view (POV) perusahaan tempat mereka bekerja, bukan berdasarkan perspektif media dan kebutuhan pembaca.

Kondisi tersebut kerap menjadi “tembok” bagi editor dalam menentukan apakah sebuah siaran pers layak dipublikasikan atau tidak. Padahal, tidak semua informasi yang memiliki unsur promosi berarti buruk atau tidak dibutuhkan pembaca.

Karena itu, seorang praktisi PR perlu memahami bagaimana menyusun siaran pers dengan pendekatan storytelling.

Menurut Cicha, praktik tersebut sebenarnya tidak sulit. Yang dibutuhkan adalah perubahan sudut pandang dalam menyusun informasi. Dari yang semula berorientasi pada promosi atau penjualan, menjadi sebuah cerita yang menarik, relevan, dan memiliki nilai informasi yang kuat.

Dengan pendekatan tersebut, sebuah siaran pers memiliki peluang lebih besar untuk dipilih editor di tengah banyaknya materi yang diterima media setiap hari.

Bahasa promosi juga menjadi salah satu penyebab siaran pers kehilangan daya tarik jurnalistik. Penggunaan kata-kata seperti “terbaik”, “premium”, atau “spektakuler”, misalnya, tidak secara otomatis menciptakan nilai berita.

“Penggunaan kata seperti ‘terbaik’, ‘premium’, atau ‘spektakuler’ tidak otomatis menghadirkan nilai berita,” ungkapnya.

Cicha juga menekankan pentingnya praktisi PR mengenali karakter media sebelum mendistribusikan siaran pers. Menurutnya, materi tidak seharusnya dikirim secara massal kepada seluruh media tanpa mempertimbangkan karakter editorial dan profil pembacanya.

Satu informasi yang sama, kata dia, dapat dikembangkan melalui sudut pandang berbeda untuk media dengan segmentasi yang berbeda pula, seperti media lifestyle, ekonomi, maupun perjalanan.

Sementara itu, dari sisi fotografi, fotografer Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata RI, Marcel Lahea, menegaskan bahwa foto bukan sekadar visual pelengkap dalam sebuah siaran pers.

Menurut Marcel, visual justru dapat menjadi penopang kuat bagi narasi yang dibangun oleh praktisi PR atau humas.

Dalam konteks membangun citra positif perusahaan, foto menjadi instrumen penting dalam menyampaikan informasi kepada publik. Oleh karena itu, kualitas visual tidak dapat dipisahkan dari pesan yang ingin disampaikan.

Untuk itu, seorang fotografer dituntut memahami teknik dan komposisi fotografi agar setiap gambar yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap rilis, tetapi juga memiliki kekuatan visual, nilai artistik, serta mampu menyampaikan cerita.

Marcel juga menekankan pentingnya kemampuan praktisi PR dalam melakukan kurasi foto sebelum materi visual didistribusikan kepada media.

“Foto yang dipublikasikan harus melalui proses kurasi sehingga gambar yang digunakan benar-benar memiliki cerita dan informatif,” tutupnya.

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Follow, Likes & Subscribe Juga Social Media Kami